PEMUDA DAN UPAYA PEMBERANTASAN KEKERASAN SEKSUAL

15-KEKERASAN-SEKSUAL-300x227Akhir-akhir ini jamak kita simak berbagai pemberitaan, baik pemberitaan di media lokal maupun nasional, baik dari media cetak maupun elektronik, banyak kasus kekerasan seksual terjadi di beberapa tempat di Indonesia. Sebagai contoh belum lama ini kita dibuat prihatin dengan kasus seorang karyawan yang dibunuh oleh pacarnya sendiri lantaran menolak hubungan seksual. Hal yang miris adalah modus pembunuhan ini adalah dengan memasukkan gagang cangkul dari kemaluannya hingga merusak organ dalam korban. Lebih miris lagi, pelaku utamanya adalah pemuda yang berusia di bawah 17 tahun. Masih hangat pula dalam ingatan kita kasus pembunuhan yang dialami oleh remaja Bengkulu bernama Yuyun yang dibunuh oleh tetangga dan kakak kelas korban yang sebelumnya korban diperkosa.

Melihat fenomena ini timbul banyak pertanyaan, salah satunya sebegitu rusakkah moral sebagian besar generasi muda kita? Sebegitu labilkah emosi para pelaku yang berani melakukan tindakan sekejam itu hingga berani menghilangkan nyawa seseorang karena menolak hubungan seksual yang belum ada ikatan pernikahan? Pertanyaan-pertanyaan itu seolah mengusik nurani kita, khususnya generasi muda.

Kita tahu bersama bahwa generasi muda adalah calon penerus bangsa, calon pemimpin masa depan. Kalau kita mengingat sebuah petuah terkenal dari Ir. Soekarno “Berikan aku 1000 orang tua maka akan aku cabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 1 orang pemuda, maka akan kuguncangkan dunia.” Adagium ini kalau kita maknai bersama, pemuda yang penuh dengan gelora semangat dan rasa keingin tahuannya yang tinggi akan melakukan tindakan-tindakan yang besar, tergantung positif atau negatif tindakan tersebut. Jika tindakan negatif, seperti kekerasan seksual ini, maka kita tidak bisa membayangkan (atau lebih tepatnya tidak berani membayangkan) bagaimana nasib bangsa ini jika tindakan ini tidak segera kita tangani.

Kasus kekerasan seksual ini berawal dari beberapa hal yang mengiringi sebelumnya, seperti para pelaku yang sebelumnya mengonsumsi minuman keras, narkotika, hingga sebelumnya terpengaruh oleh tayangan pornografi. Hal ini menjadi semacam godaan bagi pemuda, karena rasa keingin tahuannya yang tinggi dan salah satu bentuk untuk menunjukkan eksistensi diri. Sesuai dengan yang disampaikan di atas, pemuda memiliki gelora semangat yang menggebu, terutama pemuda di usia rentang antara 12 – 20 tahun. Di saat inilah godaan tersebut terkadang menggoyahkan iman sebagian pemuda kita.

Menyikapi fenomena ini, kita sebagai generasi muda harus segera berbenah dan bertindak, agar jangan sampai kasus kekerasan seksual ini kembali terulang, lebih mengkhawatirkan jika kasus ini terulang dengan jumlah kasus yang lebih besar. Tindakan paling utama adalah memperkuat iman dan taqwa kita kepada Tuhan. Hal ini merupakan benteng diri yang ampuh untuk membendung berbagai pengaruh negatif yang ada di sekitar kita, seperti pesta miras, pengaruh narkotika, tayangan pornografi, yang berimbas pada tindakan-tindakan kekerasan seksual atau hubungan seks di luar pernikahan. Kita sebagai generasi muda harus sadar betul bahwa tindakan tersebut lebih banyak dampak negatifnya dibanding dampak positifnya.

Langkah selanjutnya untuk mencegah kasus ini adalah memfilter teman dan kondisi lingkungan kita. Pada dasarnya kasus kekerasan seksual terjadi salah satunya disebabkan oleh kesalahan dalam memilih teman dan lingkungan bergaul. Filtering terhadap teman dan lingkungan bergaul dapat menghindari pengaruh negatif dari teman pergaulan kita.

Langkah selanjutnya adalah kesadaran pemuda untuk membuat atau ikut suatu wadah untuk melakukan tindakan yang positif. Dalam wadah ini, perlu pula untuk mensosialisasikan tentang gender dan seks bebas untuk menghilangkan tindakan kekerasan seksual dan hubungan seks di luar pernikahan. Selain itu wadah tersebut juga mampu memberi ruang apresiasi terhadap pemuda dalam menyalurkan cipta, rasa, dan karsanya untuk membuat suatu hal yang positif.

Selain itu, tak kalah penting adalah peran serta masyarakat dan aparat penegak hukum dalam menanggulangi kekerasan seksual. Orang tua harus selalu memantau pergaulan anak-anaknya, dalam lingkup masyarakat pun juga harus melakukan hal yang sama jika ada menemukan kelompok pemuda yang ada indikasi memberi pengaruh negatif bagi lingkungan masyarakat tersebut. Peran serta aparat dan pemerintah adalah menegakkan aturan sebagaimana mestinya dalam menangani kasus ini. Ketegasan penegakan kasus ini menjadi poin penting dalam memberi efek jera bagi pelaku kasus ini, tanpa ada unsur niatan untuk ‘memproyekkan’ kasus ini demi keuntungan sepihak.

Menangani kasus ini tentu membutuhkan kepedulian kita bersama, khususnya generasi muda. Jika semua elemen menyadari dan segera bertindak dalam menangani kekerasan seksual, kita masih bisa optimis kasus kekerasan seksual dapat diminimalisir sedini dan sekecil mungkin.

 

 

Paguyuban Sub Karang Taruna Se-Desa Hargomulyo Pererat Silaturahim

13233038_1304141179599511_8241025914892653962_nUntuk mempererat tali silaturahim antar sub karang taruna Desa Hargomulyo, Paguyuban Karang Taruna Se-Desa Hargomulyo mengadakan acara touring bersama menuju tempat wisata alam Kaliurang, Sleman, Yogyakarta pada tanggal 22 Mei 2016. Acara ini diikuti oleh Karang Taruna Unit Tapen, Unit Tonobakal, Tangkisan 1, dan Tangkisan 2 sebanyak kurang lebih 25 orang.

Menurut salah seorang anggota karang taruna unit Tapen, Yudi Antaka, acara ini diadakan untuk membangun silaturahim antar anggota sub karang taruna di Desa Hargomulyo, sekaligus mewujudkan persaudaraan serta memberikan ruang positif bagi anggota karang taruna se-Desa Hargomulyo untuk berkarya.