Growol dan Alternatif Solusi Pangan di Kulon Progo

growolBagi masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan, khususnya Kulon Progo, panganan satu ini tentu sudah tidak asing lagi. Makanan yang memiliki citarasa gurih ini dapat anda cari di pasar-pasar tradisional di Kulon Progo. Makanan ini akan bertambah nikmat disantap jika disandingkan dengan serundeng, tempe benguk, kethak, sambal atau yang lainnya.

Namun tahukah anda, ternyata makanan ini sudah ada sangat lama. Dalam Serat Centhini yang ditulis pada 1814 menceritakan makanan sayur besengek, umumnya sayur ini dihidangkan dengan nasi, namun oleh masyarakat Kulon Progo sayur ini ditemani oleh growol. Kebiasaan ini masih dipelihara warga Kulon Progo hingga sekarang, selain sayur besengek growol juga kerap ditemani pentho yang berbahan baku kelapa muda dan telur, sedangkan kethak yang berbahan baku endapan dari pengolahan minyak kelapa.

Proses pembuatan growol ini merupakan bukti keahlian fermentasi yang berkembang masa lalu. Secara sederhana, bahan dasar growol yakni singkong diambil buahnya, kemudian dipsahkan dari akar buahnya, rendam menggunakan air bersih sekitar dua-tiga hari hingga menjadi pati. Proses selanjutnya adalah pembilasan sebanyak tiga sampai empat kali, yang bertujuan supaya bersih dan bau pati hilang. Kemudian kandungan air pada pati dihilangkan agar growol dapat bertahan tiga atau empat hari. Setelah itu, pencacahan, perebusan selama lima belas hingga dua puluh menit, dan pencetakan. Alas cetaknya adalah daun pisang yang telah direbus terlebih dahulu sehingga growol tidak lengket dengan daun pisangnya.

Berbicara masalah khasiat, dalam sebuah penelitian growol dapat mencegah dari penyakit diare. Di Indonesia diare masih menjadi masalah kesehatan dan penyakit ini dapat terjadi pada semua golongan usia.  Salah satu penyebab diare yaitu infeksi bakteri patogen di saluran cerna. Beberapa bakteri patogen penyebab diare antara lain Escherichia coli, Shigella sp., Salmonella sp., dan Helicobacter pylori. Selama perendaman ini terjadi fermentasi alami, berbagai jenis mikrobia yang tumbuh pada awal fermentasi adalah Coryneform, Streptococcus,Bacillus, Actinobacter, yang selanjutnya diikuti oleh Lactobacillus dan yeast sampai akhir fermentasi. Selama proses fermentasi, bakteri asam laktat yang paling dominan tumbuh, bakteri tersebut bersifat anaerob, amilolitik dan fermentatif. Jumlah bakteri asam laktat pada growol tiap gramnya sebesar 1,64 x 108.

Kemudian, pada penelitian epidemiologi yang melibatkan sekitar 472 anak berusia 1-5 tahun di Kabupaten Kulonprogo menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara frekuensi konsumsi growol dengan angka kejadian diare. Semakin tinggi frekuensi konsumsi growol, semakin kecil kemungkinan terkena diare. Untuk dapat mencegah kejadian diare, frekuensi konsumsi growol sebaiknya minimal 6,4 kali/minggu atau rutin setiap hari dikonsumsi. Responden yang tidak mengonsumsi growol mempunyai kemungkinan menderita diare sebesar 47,4% dibandingkan responden yang mengonsumsi growol.

Namun makanan yang memiliki manfaat ini sudah jarang dikonsumsi oleh masyarakat. Hal ini karena keuntungan yang didapat dari penjualan tidak sebanding dengan biaya produksi. Pada umumnya pun masyarakat yang membeli dan mengonsumsi makanan ini rata-rata di atas 45 tahun.

Oleh karena, tentu menjadi perhatian kita bersama, khususnya warga Dusun Tapen untuk mempertahankan kearifan lokal dengan mengonsumsi makanan ini. Terlebih lagi banyak warga Dusun Tapen yang berprofesi sebagai pembuat panganan ini. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri dalam mempertahankan kuliner lokal agar tidak tenggelam oleh zaman.

 

 

*Diolah dari berbagai sumber

Advertisements

Gemulai Tari Angguk Kulon Progo

Sejarah Angguk
Tarian rakyat dibuat oleh sekelompok masyarakat yang terpisah secara sosial diluar wilayah keraton. Tarian rakyat hadir setelah terjadi pengelohan aspek sosial, budaya, ekonomi, sejarah yang tumbuh dan berproses di tengah masyarakat. Fungsinya kebanyakan untuk menyebarkan nilai positif tertentu, penyebaran agama dan sarana interaksi masyarakat. Selain itu fungsi turunannya sebagai media hiburan.

Demikian halnya dengan tari Angguk. Pada awal perkembangannya Angguk dipergunakan sebagai media penyebaran agama Islam. Seiring berjalannya waktu berkembang menjadi tarian dengan fungsi lain yang lebih sekuler sehingga dapat dinikmati oleh siapapun, meskipun tetap kental dengan nuansa Islam yang terlihat dari lantunan vokal pengiringnya. Biasanya angguk ditanggap ketika ada masyarakat yang sedang melangsungkan pernikahan, supitan dan lain sebagainya.

Tarian Angguk termasuk pada golongan tarian rakyat yang bernafaskan Islam. Di dusun Tlogolelo, Hargomulyo, Kokap, kesenian angguk bahkan sudah ada sejak tahun 1954. Hanya berjarak 9 tahun sejak bangsa ini merdeka. Hal ini menjadi bukti bahwa meskipun saat itu Kulonprogo tak luput dari penjajahan Jepang, namun warganya selalu berkreasi menciptakan kesenian sebagai sarana penyampaian nilai tertentu dan hiburan.

Antara tahun 1970 hingga 1980 Angguk berkembang pesat sampai pada tahun 1991 muncul lah grup angguk Putri Lestari di Dusun Pripih, desa Hargomulyo, Kokap. Angguk putri memang lebih berkembang dibanding  Angguk yang ditarikan oleh pria. Keberadaannya lebih terkenal dibanding Tarian Angguk pria.

Menurut penelitian yang dilakukan Fajar Listyanto pada tahun 2010, redupnya tarian Angguk pria erat kaitannya dengan perubahan yang terjadi di masyarakat kaitannya dengan Angguk. Perubahan ini seperti perubahan bentuk pertunjukan, perubahan sifat pertunjukan dan perubahan tujuan pertunjukan.

Sampai tahun 1998 atau sebelum reformasi, di Kecamatan Kokap saja terdapat sepuluh grup tari Angguk. Tujuh di antaranya grup angguk putra dan sisanya putri. Selain di Kecamatan Kokap saat itu juga terdapat grup angguk di daerah Bendungan, Kecamatan Wates; Panjatan, Kecamatan Panjatan; Kulur dan Jangkaran dari Kecamatan Temon.

Menurut beberapa sumber, Tarian Angguk masih memiliki ikatan dengan Tarian Dolalak yang besar di Kabupaten Purworejo. Jika memang mirip, hal seperti ini munkin saja terjadi . Akulturasi budaya bisa jadi telah terbentuk mengingat Kabupaten Kulonprogo secara geografis berbatasan langsung dengan Kabupaten Purworejo di Jawa Tengah.

Tidak hanya akulturasi dengan jenis tarian lain, perpaduan budaya di tarian Angguk juga tampak dari instrumen musik pengiringnya. Saat ini kesenian Angguk modern sudah mulai disisipi alat musik seperti rebana, bedug, simbal, snare drum bahkan juga keyboard. Nuansa Arab dan Jawa terlihat dari lantunan syair dan nuansa Eropa tergambar dari kostum yang dikenakan para penari.

Detail tarian dan pengiring
Pakem musik pengiring Angguk sesungguhnya hanya terdiri dari kendang, terbang, kacer dan jedor. Pengrawitnya biasa berpakaian adat Jawa namun terkadang Islami tergantung di acara apa mereka berpentas. Begitupun syair lagu, kadang dinyanyikan dengan bahasa lokal tak jarang pula dengan tutur kata Arab.

Jika bicara mengenai penamaan, Angguk dalam Bahasa Jawa memiliki arti menggerakkan kepala ke atas kemudian ke bawah secara berulang. Gerakan tersebut adalah ciri khas tarian Angguk yang mungkin dipakai oleh para penciptanya sebagai nama dari jenis tarian ini. Berdasarkan cerita dari masyarakat, gerakan Angguk terinspirasi dari gerakan berbaris serdadu Belanda. Jika dilihat secara visual, gerakan tarian Angguk memang mirip gerakan baris-berbaris berpadu dengan tarian tradisional Jawa.

Tarian Angguk termasuk ke dalam jenis tarian kelompok berjumlah 15 orang. Dapat dipentaskan di dalam ruangan dan di luar ruangan selama kondisi permukaan tanahnya datar. Posisi kaki penari Angguk pada umumnya terbuka dan lengan pada posisi sedang. Berbeda dengan posisi kaki pada tari tradisional Jawa yang dipentaskan perempuan, kebanyakan pada posisi tertutup. Disamping itu ada gerakan tangan yang menyerupai uker dan ngruji dengan dua jari. Ada pula juga gerakan sabetan dan ombak banyu seperti pada wayang wong.

Layaknya tarian rakyat dan tarian tradisional lain, tari Angguk juga dibawakan dengan kisah tertentu. Peran yang dibawakan dibagi manjadi dua macam yakni peran utama dan pengiring. Peran utama terdiri dari tokoh Umarmoyo, Sekar Mawar, Dewi Kuning-Kuning, Air Gunung, Trisnowati dan Awang-awang. Sedangkan penari lain bertindak sebagai pengiring.

Berbeda dengan saat ini, kostum yang dipakai penari Angguk jaman dahulu sangat sederhana. Tidak seperti saat ini yang nampak lebih atraktif. Sejak mula hingga saat ini warna kostum berkisar di warna hitam, merah dan kuning.  Kostum angguk menyerupai baju prajurit Belanda dihiasi dengan gombyok benang emas, pangkat pada bahu kanan kiri penari, slempang, sampur cinde, kace, kalung, topi pet warna hitam dengan hiasan bintang sebagai lambing religiusitas. Selain itu yang khas dari Angguk adalah penari selalu menggunakan kaos kaki panjang  warna merah dan ada pula yang kuning seperti pemain sepakbola tanpa sepatu, bercelana pendek serta berkaca mata hitam.

Belum ada patokan dalam hal tata rias. Yang pasti selalu ada adalah penggunaan lipstick atau benges tebal warna merah. Bedak dan sebagainya bukan tuntutan utama dalam pementasan tari Angguk.

Dalang dan pembawa syair
Di setiap pementasan Angguk selalu ada seseorang yang bertugas membawakan syair. Syair yang digunakan diambil dari Alquran, kitab Tlodo serta kitab lain yang bernafaskan muslim serta budaya Jawa. Para pengiring tetabuhan Angguk duduk sejajar dengan para penari di atas panggung. Kepercayaan yang berkembang di masyarakat yakni kesenian Angguk dianggap dapat mendatangkan kesembuhan bagi penanggap jika kebetulan sedang sakit.

Bentuk dialog dari tari Angguk semacam tembang yang dibawakan oleh dalang menggunakan Bahasa Arab, Bahasa Jawa ngoko dan terkadang Bahasa Indonesia. Pertunjukan tari angguk dipimpin oleh seorang dalang yang bertugas membaca sholawat. Lama pertunjukan Angguk bisa mencapai lima sampai tujuh jam, namun untuk keperluan tertentu dapat dipotong menjadi dua sampai tiga jam. Jaman dahulu tari Angguk dipentaskan pada malam hari mulai pukul 21.00 dengan diawali bunyi instrument musik.

Banyak dari kita tidak memahami bahwa pementasan tari Angguk dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama dalang membacakan sholawat dan posisi semua penari masih duduk berhadapan. Kemudian penari berjajar menghadap penonton untuk memberikan penghormatan kepada penonton dengan posisi masih duduk.

Setelah itu dua orang penari menari bersama dengan posisi berdiri sedang penari yang lain masih tetap duduk. Kemudian para penari menari bersama untuk memanggil roh. Roh akhirnya datang merasuki salah seorang penari. Roh yang dipanggil misalnya Umarmoyo. Biasanya roh Umarmoyo ini dipanggil setelah jatuh pada srokal dan setiap babak selalu didahului pembacaan sholawat oleh dalang. Keseluruhannya mengambil tema dari dari Serat Ambiya, dengan pokok cerita tentang masa kecil Umarmoyo dan Wong Agung Jayengrono.

Angguk seakan lenyap
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah kapan kita berkesempatan untuk melihat tarian Angguk lagi? Jika puas menunggu setahun sekali kawan-kawan dari kelompok Angguk yang berdomisili di Kokap selalu tampil di karnaval memperingati kemerdekaan Republik ini. Patut diapresiasi dengan munculnya variasi baru dari tari Angguk yakni Senam Angguk, namun harus digarisbawahi bahwa Senam Angguk bukanlah Angguk.

Menjadi sangat indah jika kita bergumul bersama mereka yang giat mengembangkan kesenian lokal. Mengajak lalu memberikan mereka kesempatan unjuk kebolehan sekaligus  memberikan hiburan di acara kampung ataupun acara pribadi. Dengan ini kesenian lokal Kulonprogo akan selalu terpelihara. Tidak menolak modernisasi, namun bagaimana modernisasi bersama tradisi dapat tumbuh berdampingan dengan asri.

Tahun lalu saat karnaval kami berbincang dengan salah satu panitia ketika kontingen Angguk berunjuk kebolehan di depan mimbar Wakil Bupati. Panitia ini berseloroh, Angguk ini kemarin tampil di depan Presiden pada sebuah acara kenegaraan. Angguk dapat bermain di Istana Negara. Mengapa di Kulonprogo tidak? (sumber: Bappeda Kulonprogo; foto: http://www.kompasiana.com/laksitawii)

Sumber artikel http://watespahpoh.net/2014/gemulai-tarian-angguk-kulonprogo.html

Sejarah Berdirinya Karang Taruna

karangtaruna kecilKarang Taruna lahir pada tanggal 26 September 1980 di Kampung Melayu, Jakarta. Kelahiran gerakan ini merupakan perwujudan semangat kepedulian generasi muda untuk turut mencegah dan menanggulangi masalah kesejahteraan sosial masyarakat, terutama yang dihadapi anak dan remaja di lingkungannya.

Kepedulian tersebut diwujudkan dalam bentuk kegiatan – kegiatan pengisian waktu luang yang positif seperti rekreasi, olah raga, kesenian, kepanduan, pengajian dan lain – lain bagi anak – anak yatim, putus sekolah, tidak sekolah, yang berkeliaran, main kartu dan lain – lain yang pada umumnya berasal dari keluarga miskin.

Dalam perjalanannya, Karang Taruna mengalami perkembangan yang cukup pesat, baik jumlah maupun program kegiatannya. Hingga saat ini Karang taruna tumbuh di setiap kelurahan dan desa di wilayah Indonesia.

Program Karang Taruna yang diawali dengan kegiatan pengisian waktu luang, bertambah dan berkembang dengan kegiatan – kegiatan:

  •  Ekonomis produktif yang membantu membuka lapangan kerja/ usaha bagi warga Karang Taruna yang menganggur atau putus sekolah.
  • Pelayanan sosial bagi para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), seperti anak terlantar, penyandang cacat, keluarga miskin, dan lain sebagainya.
  • Partisipasi aktif dan praktis yang mendukung program – program pembangunan di desa/ kelurahan masing – masing termasuk program dari berbagai instansi.
  • Pengembangan potensi generasi muda Warga Karang Taruna dalam rangka
  • Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), dan lain – lain.

Sejalan dengan perkembangan Karang Taruna yang mampu memberikan peran dan kontribusi dalam pembangunan di wilayah,Karang Taruna memiliki landasan hukum yang memperkuat keberadaannya di masyarakat, yaitu:

  • Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 13/HUK/KEP/1981 tentang Susunan Oganisasi dan Tata Kerja Karang Taruna;
  • Ketetapan MPR Nomor II/MPR/1983 yang menetapkan Karang Taruna sebagai salah satu wadah pengembangan generasi muda, disamping OSIS, KNPI, Pramuka, dan lain – lain;
  • Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 77/HUK/2010 tentang Pedoman Dasar Karang Taruna.
    Situasi krisis yang dihadapi bangsa Indonesia mulai tahun 1997, turut memberikan dampak bagi menurunnya dan bahkan terhentinya aktivitas sebagian besar Karang Taruna. Meskipun demikian, masih cukup banyak Karang Taruna yang tetap eksis menyelenggarakan berbagai kegiatan sesuai kondisi dan kemampuannya masing – masing. Hal itu setidaknya menunjukkan bahwa Karang Taruna cukup mengakar di tengah – tengah masyarakat.

Di samping itu, gerakan reformasi yang timbul dalam situasi krisis, sempat pula membuat adanya dua pedoman dasar Karang Taruna. Masing – masing Pedoman Dasar Karang Taruna ditetapkan dengan Keputusan Menteri Sosial dan Pedoman Dasar karang Taruna Indonesia sebagai hasil Temu Karya Nasional IV tahun 2001 di  Medan. Hal itu membuat pemahaman tentang Karang Taruna di kalangan Karang Taruna itu sendiri berbeda – beda dan jika terus berlanjut akan kurang menguntungkan bagi perkembangan Karang Taruna ke depan.

Dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 83/HUK/2005 tentang Pedoman Dasar Taruna, diharapkan tidak terjadi lagi persepsi atau pemahaman yang berbeda – beda tentang Karang Taruna, artinya bahwa pemahaman tentang Karang Taruna mengacu kepada Peraturan Menteri Sosial tersebut. Peraturan tersebut sendiri lahir sebagai rekomendasi dari hasil – hasil Temu Karya Nasional V Karang Taruna di Provinsi Banten Tahun 2005, yang merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi Warga Karang Taruna di tingkat nasional, sehingga Pemensos RI No. 83/HUK/2005 teap menjunjung tinggi perinsip dari, oleh, dan untuk masyarakat Warga Karang Taruna.

Pengertian Karang Taruna

Karang Taruna adalah organisasi sosial wadah pengembangan generasi muda yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh, dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa/ kelurahan atau komunitas adat sederajat dan terutama bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial.

Rumusan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Karang Taruna adalah suatu organisasi sosial perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam melaksanakan Usaha Kesejahteraan Sosial (UKS).
  • Sebagai wadah pengembangan generasi muda, Karang Taruna merupakan tempat diselenggarakannya berbagai upaya atau kegiatan untuk meningkatkan dan mengembangkan cipta, rasa, karsa, dan karya generasi muda dalam rangka pengembangan Sumber Daya Manusia.
  • Karang Taruna tumbuh dan berkembang atas dasar adanya kesadaran terhadap keadaan dan permasalahan di lingkungannya serta adanya tanggung jawab sosial untuk turut berusaha menanganinya. Kesadaran dan bertanggung jawab sosial tersebut merupakan modal dasar tumbuh dan berkembangnya Karang Taruna.
  • Karang Taruna tumbuh dan berkembang dari generasi muda, diurus atau dikelola oleh generasi muda dan untuk kepentingan generasi muda dan masyarakat di wilayah desa/ kelurahan atau komunitas adat sederajat. Karenanya setiap desa/ kelurahan atau komunitas adat sederajat dapat menumbuhkan dan mengembangkan Karang Taruna sendiri.
  • Gerakannya di bidang Usaha Kesejahteraan Sosial memberi arti bahwa semua upaya dan program kegiatan yang diselenggarakan Karang Taruna ditujukan guna mewujudkan kesejahteraan sosial masyarakat terutama generasi mudanya.
  • Komunitas adat sederajat adalah kondisi objektif di wilayah yang memiliki keanekaragaman wilayah yang berbeda, misalnya Nagari di Sumatera Barat, Banjar di Bali, serta Distrik di Papua.

Kedudukan Karang Taruna

Setiap Karang Taruna berkedudukan di desa/ kelurahan atau komunitas adat sederajat diseluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sesuai dengan kedudukannya, maka Karang Taruna secara organisasi bersifat lokal dan berdiri sendiri, sehingga hubungan antara sesama Karang Taruna bersifat horizontal, sederajat dan tidak saling membawahi.

Azas dan Tujuan Karang Taruna

  • Karang Taruna berdasarkan Pancasila

Tujuan Karang Taruna yang dirumuskan dalam Pemensos RI Nomor 77 Tahun 2010 tentang Pedoman Dasar Karang Taruna adalah:

  • Terwujudnya pertumbuhan dan perkembangan kesadaran tanggung jawab sosial setiap generasi muda Warga Karang Taruna dalam mencegah, menangkal, menanggulangi, dan mengantisipasi berbagai masalah sosial.
  • Terbentuknya jiwa dan semangat kejuangan generasi muda Warga Karang Taruna yang terampil dan berkepribadian serta berpengetahuan.
  • Tumbuhnya potensi dan kemampuan generasi muda dalam rangka mengembangkan keberdayaan Warga Karang Taruna.
  • Termotivasinya setiap generasi muda Warga Karang Taruna untuk mampu menjalin toleransi dan menjadi perekat persatuan dalam keberagaman kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  • Terjalinnya kerja sama antara generasi muda Warga Karang Taruna dalam rangka mewujudkan taraf kesejahteraan sosial bagi masyarakat.
  • Terwujudnya kesejahteraan sosial yang semakin meningkat bagi generasi muda di desa/ kelurahan atau komunitas adat sederajat yang memungkinkan pelaksanaan fungsi sosialnya sebagai manusia pembangunan yang mampu mengatasi masalah kesejahteraan sosial di lingkungannya.
  • Terwujudnya pembangunan kesejahteraan sosial  generasi muda di desa/ kelurahan atau komunitas adat sederajat yang dilaksanakan secara komprehensif, terpadu, dan terarah serta berkesinambungan oleh Karang Taruna bersama pemerintah dan komponen masyarakat lainnya.

Tugas Pokok dan Fungsi Karang Taruna

Setiap Karang Taruna mempunyai tugas pokok secara bersama – sama dengan Pemerintah dan komponen masyarakat lainnya untuk menanggulangi berbagai masalah kesejahteraan sosial terutama yang dihadapi generasi muda, baik yang bersifat preventif, rehabilitatif, maupun pengembangan potensi generasi muda di lingkungannya.

Fungsi Karang Taruna yang dirumuskan dalam Pemensos RI Nomor 77 Tahun 2010 tentang Pedoman Dasar Karang Taruna adalah:

  • Penyelenggara Usaha Kesejahteraan Sosial;
  • Penyelenggara Pendidikan dan Pelatihan bagi masyarakat;
  • Penyelenggara pemberdayaan masyarakat terutama generasi muda di lingkungannya secara komprehensif, terpadu dan terarah serta berkesinambungan;
  • Penyelenggara kegiatan pengembangan jiwa kewirausahaan bagi generasi muda di lingkungannya;
  • Penanaman pengertian, memupuk dan meningkatkan kesadaran tanggung jawab sosial generasi muda;
  • Penumbuhan dan pengembangan semangat kebersamaan jiwa kekeluargaan, kesetiakawanan sosial dan memperkuat nilai – nilai kearifan lokal dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia;
  • Pemupukan kreativitas generasi muda untuk dapat mengembangkan tanggung jawab sosial yang bersifat rekreatif, kreatif, edukatif, ekonomis produktif dan kegiatan praktis lainnya dengan mendayagunakan segala sumber dan potensi kesejahteraan sosial di lingkungannya secara swadaya;
  • Penyelenggaraan rujukan, pendampingan dan advokasi sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial;
  • Penguatan sistem jaringan komunikasi, kerjasama, informasi dan kemitraan dengan berbagai sektor lainnya;
  • Penyelenggara usaha – usaha pencegahan permasalah sosial yang aktual.

Keanggotaan Karang Taruna

Keanggotaan Karang Taruna menganut sistem stelsel pasif yang berarti generasi seluruh muda dalam lingkungan desa/ kelurahan atau komunitas adat sederajat yang berusia 11 sampai dengan 45 tahun secara otomatis menjadi anggotanya, yang selanjutnya disebut sebagai Warga Karang Taruna.

Setiap generasi muda dalam kedudukannya sebagai Warga Karang Taruna mempunyai hak dan kewajiban yang sama tanpa membedakan asal keturunan, golongan, suku dan budaya, jenis kelamin, kedudukan sosial, pendirian politik dan agama.

Keuangan Karang Taruna

Keuangan Karang Taruna dapat diperoleh dari:

  • Iuran Warga Karang Taruna;
  • Usaha sendiri yang diperoleh secara sah;
  • Bantuan masyarakat yang tidak mengikat;
  • Bantuan/ subsidi dari pemerintah;
  • Usaha – usaha lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku.

 

Sumber https://yodataruna.wordpress.com/sejarah-berdirinya-karang-taruna/

Makna Logo Karang Taruna

karangtaruna kecil

Sesuai dengan Surat keputusan Menteri Sosial R.I Nomor: 65/HUK/KEP/XII/1982 tentang Lambang Karang Taruna, ditetapkanlah Lambang Karang Taruna sebagai berikut:

Lambang Karang Taruna mengandung unsur – unsur sekuntum bunga teratai yang mulai mekar, dua helai pita terpampang di bagian atas dan bawah, sebuah lingkaran, dengan bunga teratai mekar sebagai latar belakang.

Makna Lambang Karang Taruna

1. Bunga Teratai yang mulai mekar; melambangkan unsur remaja yang dijiwai semangat kemasyarakatan (sosial).

2. Empat helai daun bunga di bagian bawah; melambangkan keempat fungsi Karang Taruna yaitu:

  • Memupuk kreativitas untuk belajar bertangggung jawab.
  • Membina kegiatan – kegiatan sosial, rekreatif, edukatif, ekonomis produktif, dan kegiatan lainnya yang praktis.
  • Mengembangkan dan mewujudkan harapan serta cita – cita anak dan remaja melalui bimbingan interaksi yang dilaksanakan baik secara individual maupun kelompok.
  • Menanamkan pengertian, kesadaran dan memasyarakatkan penghayatan dan pengamalan Pancasila.

3. Tujuh helai daun bunga bagian atas; melambangkan tujuh unsur kepribadian yang harus dimiliki oleh anak dan remaja.

  • Taat : Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  • Tanggap : Penuh perhatian dan peka terhadap masalah
  • Tanggon : Kuat, daya tahan fisik dan mental
  • Tandas : Tegas, pasti, tidak ragu, teguh pendirian
  • Tangkas : Sigap, gesit, cepat bergerak, dinamis
  • Trampil : Mampu berkreasi dan berkarya praktis
  • Tulus : Sederhana, ikhlas, rela memberi, jujur

4. Pita di bagian bawah bertuliskan KARANG TARUNA;
Mengandung arti:

  • KARANG = pekarangan, halaman, atau tempat
  • TARUNA = remaja
  • Secara keseluruhan berarti tempat atau wadah pembinaan remaja.

5. Pita di bagian atas bertuliskan ADITYA KARYA MAHATVA YODHA;
Mengandung arti:

  • ADITYA : Cerdas, penuh pengalaman
  • KARYA : Pekerjaan
  • MAHATVA : Terhormat, berbudi luhur
  • YODHA : Pejuang, patriot

Secara keseluruhan berarti Pejuang yang berkepribadian, berpengetahuan, dan terampil.

6. Lingkaran; melambangkan sebuah tameng, sebagai lambang Ketahanan Nasional.

7. Bunga Teratai yang mekar berdaun lima helai; melambangkan lingkungan kehidupan masyarakat yang sejahtera merata berlandaskan Pancasila.

8. Arti warna

  • Putih : Kesucian, tidak tercela, tidak ternoda
  • Merah :Keberanian, sabar, tenang, dan dapat mengendalikan diri, tekad
  • pantang mundur
  • Kuning : Keagungan atas keluhuran budi pekerti

 

Sumber: https://yodataruna.wordpress.com/sejarah-berdirinya-karang-taruna/lambang-dan-arti-karang-taruna/